PENGALAMAN MATI SURI ASLINA
Jumat, 01 Januari 2010
Pengalaman mati suri seperti yang dialami Aslina,
telah pula dirasakan banyak orang. Seorang peneliti
dan meraih gelar doktor filsafat dari Universitas
Virginia Dr Raymond A Moody pernah meneliti fenomena
ini. Hasilnya orang mati suri rata-rata memiliki
pengalaman yang hampir sama. Masuk lorong waktu dan
ingin dikembalikan ke dunia.
Berikut catatan Riau Pos yang turut serta
mendengarkan kesaksian Aslina dalam temu Alumni ESQ
(emotional, spiritual, quotient) Ahad (24/9) di Hotel
Mutiara Merdeka Pekanbaru.
Catatan ini dilengkapi pula dengan penjelasan
instruktur ESQ Legisan Sugimin yang mengutip Al-Quran
yang menjelaskan orang yang mati itu ingin
dikembalikan ke dunia, serta penelusuran melalui
internet tentang Dr Raymond.
Bagi pembaca yang ingin mengetahui perihal Dr Raymond
dapat
membuka situs www.lifeafterlife.com dan hasil
penelitian Raymond
tentang mati suri dapat dibaca di buku Life After
Life.
Aslina adalah warga Bengkalis yang mati suri 24
Agustus 2006 lalu. Gadis berusia sekitar 25 tahun itu
memberikan kesaksian saat nyawanya dicabut dan apa
yang disaksikan ruhnya saat mati suri.
Sebelum Aslina memberi kesaksian, pamannya Rustam
Effendi memberikan penjelasan pembuka. Aslina berasal
dari keluarga sederhana, ia telah yatim. Sejak kecil
cobaan telah datang kepada dirinya.
Pada umur tujuh tahun tubuhnya terbakar api sehingga
harus menjalani dua kali operasi. Menjelang usia SMA
ia termakan racun. Tersebab itu ia menderita selama
tiga tahun. Pada umur 20 tahun ia terkena gondok
(hipertiroid). Gondok tersebut menyebabkan beberapa
kerusakan pada jantung dan matanya. Karena penyakit
gondok itu maka Jumat, 24 Agustus 2006 Aslina
menjalani check-up atas gondoknya di Rumah Sakit
Mahkota Medical Center (MMC) Melaka Malaysia. Hasil
pemeriksaan menyatakan penyakitnya di ambang batas
sehingga belum bisa dioperasi.
''Kalau dioperasi maka akan terjadi pendarahan,''
jelas Rustam. Oleh karena itu Aslina hanya diberi
obat. Namun kondisinya tetap lemah. Malamnya Aslina
gelisah luar biasa, dan terpaksa pamannya membawa
Aslina kembali ke Mahkota sekitar pukul 12 malam itu.
Ia dimasukkan ke unit gawat darurat (UGD), saat itu
detak jantungnya dan napasnya sesak. Lalu ia dibawa ke
luar UGD masuk ke ruang perawatan. ''Aslina seperti
orang ombak (menjelang sakratulmaut, red). Lalu saya
ajarkan kalimat thoyyibah dan syahadat. Setelah itu
dalam pandangan saya Aslina menghembuskan nafas
terakhir,'' ungkapnya. Usai Rustam memberi pengantar,
lalu Aslina memberikan kesaksiaanya.
''Mati adalah pasti. Kita ini calon-calon mayat, calon
penghuni kubur,'' begitu ia mengawali kesaksiaanya
setelah meminta seluruh hadirin yang memenuhi Grand
Ball Room Hotel Mutiara Merdeka Pekanbaru tersebut
membacakan shalawat untuk Nabi Muhammad SAW. Tak lupa
ia juga menasehati jamaah untuk memantapkan iman,
amal dan ketakwaan sebelum mati datang. ''Saya telah
merasakan mati,'' ujar anak yatim itu. Hadirin terpaku
mendengar kesaksian itu. Sungguh, lanjutya, terlalu
sakit mati itu..
Diceritakan, rasa sakit ketika nyawa dicabut itu
seperti sakitnya kulit hewan ditarik dari daging,
dikoyak. Bahkan lebih sakit lagi.
''Terasa malaikat mencabut (nyawa, red) dari kaki
kanan saya,'' tambahnya. Di saat itu ia sempat
diajarkan oleh pamannya kalimat thoyibah. ''Saat di
ujung napas, saya berzikir,'' ujarnya. ''Sungguh
sakitnya, Pak, Bu,'' ulangnya di hadapan lebih dari
300 alumni ESQ Pekanbaru.
Diungkapkan, ketika ruhnya telah tercabut dari jasad,
ia menyaksikan di sekelilingnya ada dokter, pamannya
dan ia juga melihat jasadnya yang terbujur.
Setelah itu datang dua malaikat serba putih
mengucapkan Assalaimualaikum kepada ruh Aslina.
''Malaikat itu besar, kalau memanggil, jantung rasanya
mau copot, gemetar,'' ujar Aslina mencerita pengalaman
matinya. Lalu malaikat itu bertanya: ''siapa Tuhanmu,
apa agamamu, dimana kiblatmu dan siapa nama
orangtuamu.'' Ruh Aslina menjawab semua pertanyaan itu
dengan lancar.
Lalu ia dibawa ke alam barzah. ''Tak ada teman kecuali
amal,'' tambah Aslina yang Ahad malam itu berpakaian
serba hijau.
Seperti pengakuan pamannya, Aslina bukan seorang
pendakwah, tapi malam itu ia tampil memberikan
kesaksian bagaikan seorang muballighah. Di alam barzah
ia melihat seseorang ditemani oleh sosok yang mukanya
berkudis, badan berbulu dan mengeluarkan bau busuk.
Mungkin sosok itulah adalah amal buruk dari orang
tersebut.
Aslina melanjutkan. ''Bapak, Ibu, ingatlah mati,''
sekali lagi ia mengajak hadirin untuk bertaubat dan
beramal sebelum ajal menjemput.
Di alam barzah, ia melanjutkan kesaksiannya, ruh
Aslina dipimpin oleh dua orang malaikat. Saat itu ia
ingin sekali berjumpa dengan ayahnya. Lalu ia
memanggil malaikat itu dengan ''Ayah''. ''Wahai ayah
bisakah saya bertemu dengan ayah saya,''
tanyanya. Lalu muncullah satu sosok. Ruh Aslina tak
mengenal sosok yang berusia antara 17-20 tahun itu.
Sebab ayahnya meninggal saat berusia 65 tahun.
Ternyata memang benar, sosok muda itu adalah ayahnya.
Ruh Aslina mengucapkan salam ke ayahnya dan berkata:
''Wahai ayah, janji saya telah sampai.'' Mendengar itu
ayah saya saya menangis.Lalu ayahnya berkata kepada
Aslina. ''Pulanglah ke rumah, kasihan adik-adikmu.''
ruh Aslina pun menjawab. ''Saya tak bisa pulang,
karena janji telah sampai''.
Usai menceritakan dialog itu, Aslina mengingatkan
kembali kepada hadirin bahwa alam barzah dan akhirat
itu benar-benar ada.
''Alam barzah, akhirat, surga dan neraka itu betul
ada. Akhirat adalah kekal,'' ujarnya bak seorang
pendakwah.
Setelah dialog antara ruh Aslina dan ayahnya. Ayahnya
tersebut menunduk. Lalu dua malaikat memimpinnya
kembali, ia bertemu dengan perempuan yang beramal
shaleh yang mukanya bercahaya dan wangi. Lalu ruh
Aslina dibawa kursi yang empuk dan didudukkan di kursi
tersebut, di sebelahnya terdapat seorang perempuan
yang menutup aurat, wajahnya cantik. Ruh Aslina
bertanya kepada perempuan itu. ''Siapa kamu?'' lalu
perempuan itu menjawab.''Akulah (amal) kamu.''
Selanjutnya ia dibawa bersama dua malaikat dan amalnya
berjalan menelurusi lorong waktu melihat penderitaan
manusia yang disiksa. Di sana ia melihat seorang
laki-laki yang memikul besi seberat 500 ton, tangannya
dirantai ke bahu, pakaiannya koyak-
koyak dan baunya menjijikkan. Ruh Aslina bertanya
kepada amalnya.
''Siapa manusia ini?'' Amal Aslina menjawab orang
tersebut ketika hidupnya suka membunuh orang.
Lalu dilihatnya orang yang yang kulit dan dagingnya
lepas. Ruh Aslina bertanya lagi ke amalnya tentang
orang tersebut. Amalnya mengatakan bahwa manusia
tersebut tidak pernah shalat bahkan tak bisa
mengucapkan dunia kalimat syahadat ketika di
dunia.
Selanjutnya tampak pula oleh ruh Aslina manusia yang
dihujamkan besi ke tubuhnya. Ternyata orang itu adalah
manusia yang suka berzina. Tampak juga orang saling
bunuh, manusia itu ketika hidup suka bertengkar dan
mengancam orang lain.
Dilihatkan juga pada ruh Aslina, orang yang ditusuk
dengan 80 tusukan, setiap tusukan terdapat 80 mata
pisau yang tembus ke dadanya, lalu berlumuran darah,
orang tersebut menjerit dan tidak ada yang
menolongnya. Ruh Aslina bertanya pada amalnya. Dan
dijawab orang tersebut adalah orang juga suka
membunuh.
Tampak pula orang berkepala babi dan berbadan babi.
Orang tersebut adalah orang yang suka berguru pada
babi. Ada pula orang yang dihempaskan ke tanah lalu
dibunuh. Orang tersebut adalah anak yang durhaka dan
tidak mau memelihara orang tuanya ketika di dunia.
Perjalanan menelusuri lorong waktu terus berlanjut.
Sampailah ruh Aslina di malam yang gelap, kelam dan
sangat pekat sehingga dua malaikat dan amalnya yang
ada disisinya tak tampak. Tiba-tiba muncul suara orang
mengucap : Subnallah, Alhamdulillah dan Allahu Akbar.
Tiba-tiba ada yang mengalungkan sesuatu di lehernya.
Kalungan itu ternyata tasbih yang memiliki biji 99
butir.
Perjalanan berlanjut. Ia nampak tepak tembaga yang
sisi-sisinya mengeluarkan cahaya, di belakang tepak
itu terdapat gambar kakbah. Di dalam tepak terdapat
batangan emas. Ruh Aslina bertanya pada amalnya
tentang tepak itu. Amalnya menjawab tepak tersebut
adalah husnul khatimah. (Husnul khatimah secara
literlek
berarti akhir yang baik. Yakni keadaan dimana manusia
pada akhir hayatnya dalam keadaan (berbuat) baik,red).
Selanjutnya ruh Aslina mendengarkan azan seperti azan
di Mekkah. Ia pun mengatakan kepada amalnya. ''Saya
mau shalat.'' Lalu dua malaikat yang memimpinnya
melepaskan tangan ruh Aslina.
''Saya pun bertayamum, saya shalat seperti orang-orang
di dunia shalat,'' ungkap Aslina.
Selanjutnya ia kembali dipimpin untuk melihat Masjid
Nabawi. Lalu diperlihatkan pula kepada ruh Aslina,
makam Nabi Muhammad SAW. Dimakam tersebut
batangan-batangan emas di dalam tepak ''husnul
khatimah'' itu mengeluarkan cahaya terang.
Berikutnya ia melihat cahaya seperti matahari tapi
agak kecil. Cahaya itu pun bicara kepada ruh Aslina.
''Tolong kau sampaikan kepada umat, untuk bersujud di
hadapan Allah.''
Selanjutnya ruh Aslina menyaksikan miliaran manusia
dari berbagai abad berkumpul di satu lapangan yang
sangat luas. Ruh Aslina hanya berjarak sekitar lima
meter dari kumpulan manusia itu. Kumpulan manusia itu
berkata. ''Cepatlah kiamat, aku tak tahan lagi di sini
Ya Allah.'' Manusia-manusia itu juga memohon. ''Tolong
kembalikan aku ke dunia, aku mau beramal.''
Begitulah di antara cerita Aslina terhadap apa yang
dilihat ruhnya saat ia mati suri. Dalam kesaksiaannya
ia senantiasa mengajak hadirin yang datang pada
pertemuan alumni ESQ itu untuk bertaubat dan beramal
shaleh serta tidak melanggar aturan Allah.
Setelah kesaksian Aslina, instruktur Pelatihan ESQ
Legisan Sugimin yang telah mendapat lisensi dari Ary
Ginanjar (pengarang buku sekaligus penemu metode
Pelatihan ESQ) menjelaskan bahwa fenomena mati suri
dan apa yang disaksikan oleh orang yang mati suri
pernah diteliti ilmuan Barat.
Legisan mengemukakan pula, mungkin di antara alumni
ESQ yang hadir pada Ahad (24/9) malam itu ada yang
tidak percaya atau ragu terhadap kesaksian Aslina.
Tapi yang jelas, lanjutnya, rata-rata orang yang mati
suri merasakan dan melihat hal yang hampir sama.
''Apa yang disampaikan Aslina, mungkin bukti yang
ditunjukkan Allah kepada kita semua,'' ujarnya.Legisan
menjelaskan penelitian oleh Dr Raymond A Moody Jr
tentang mati suri. Raymond mengemukakan orang mati
suri itu dibawa masuk ke lorong waktu, di sana ia
melihat rekaman seluruh apa yang telah ia lakukan
selama hidupnya.. Dan diakhir pengakuan orang mati suri
itu berkata: ''Dan aku ingin agar aku dapat kembali
dan membatalkan semuanya.''
Menanggapi kesaksian Aslina yang melihat orang-orang
berteriak ingin dikembalikan ke dunia dan ingin
beramal serta penelitian Raymond yang menyebutkan
''aku ingin agar aku dapat kembali dan membatalkan
semuanya,'' Legisan mengutip ayat Al-Quran Surat
Al-Mu'muninun (23) ayat 99-100:
(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), Hingga
apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka,
dia berkata:''Ya, Tuhanku kembalikanlah aku (ke
dunia).''(99). Agar aku berbuat amal yang saleh
terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak.
Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya
saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari
mereka dibangkitkan.(100).
Sebagai penguat dalil agar manusia bertaubat,
dikutipkan juga Quran Surat Az-Zumar ayat 39: ''Dan
kembalilah kamu kepada Tuhan-Mu, dan berserah dirilah
kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu
tidak dapat ditolong (lagi).''
Usai pertemuan alumni itu, Aslina meminta nasehat dari
Legisan. Intruktur ESQ itu menyarankan agar Aslina
senatiasa berdakwah dan menyampaikan kesaksiaannya
saat mati suri kepada masyarakat agar mereka bertaubat
dan senantiasa mentaati perintah Allah dan menjauhi
larangan-Nya. Setelah acara, banyak di antara alumni
yang bersimpati dan ingin membantu pengobatan sakit
gondoknya. Para hadirinpun menyempat diri untuk
berfoto bersama Aslina.
Semoga pembaca dapat mengambil pelajaran dari
kesaksiaan
Aslina.


0 komentar:
Posting Komentar